Minggu, 08 September 2013

Sejarah Kota Kuningan

Ada beberapa
kemungkinan tentang
asal-
usulnya Kuningan
dijadikan
nama daerah ini. Salah
satu
kemungkinan adalah
bahwa istilah tersebut
berasal dari nama sejenis
logam, yaitu kuningan.
Dalam bahasa Sunda
(juga
bahasa Indonesia),
kuningan adalah sejenis
logam yang terbuat dari
bahan campuran berupa
timah, perak dan
perunggu. Jika disepuh
(dibersihkan dan diberi
warna indah) logam
kuningan itu akan
berwarna kuning
mengkilap seperti emas
sehingga benda dibuat
dari
bahan ini akan tampak
bagus dan indah.
Memang
logam kuningan bisa
dijadikan bahan untuk
membuat aneka barang
keperluan hidup manusia
seperti patung, bokor,
kerangka lampu maupun
hiasan dinding.
Di Sangkanherang, dekat
Jalaksana sebelum tahun
1914 ditemukan
beberapa
patung kecil terbuat dari
kuningan. Paling tidak
sampai tahun 1950-an
barang-barang yang
terbuat dari bahan logam
kuningan itu sangat
disukai
oleh masyarakat elit
(menak) di daerah
Kuningan. Barang-barang
yang dimaksud
berbentuk
alat perkakas rumah
tangga dan barang hiasan
di dalam rumah. Benda-
benda dari bahan
kuningan
itu juga disukai pula oleh
sejumlah masyarakat
Sunda, Jawa, Melayu, dan
beberapa kelompok
masyarakat di Nusantara
umumnya.
Di daerah Ciamis dan
Kuningan sendiri terdapat
cerita legenda yang
bertalian dengan bokor
(tempat menyimpan
sesuatu di dalam rumah
dan sekaligus sebagai
barang perhiasan) yang
terbuat dari logam
kuningan[. Kedua cerita
legenda dimaksud
menuturkan tentang
sebuah bokor kuningan
yang dijadikan alat untuk
menguji tingkat keilmuan
seorang tokoh agama.
Di Ciamis - dalam cerita
Ciung Wanara - bokor itu
digunakan untuk menguji
seorang pendeta Galuh
(masa pra-Islam)
bernama
Ajar Sukaresi yang
bertapa
di Gunung Padang.
Pendeta
ini diminta oleh Raja
Galuh
yang ibukota kerajaannya
berkedudukan di Bojong
Galuh (desa
Karangkamulya) sekarang
yang terletak sekitar 12
km
sebelah timur kota
Ciamis,
untuk menaksir perut
istrinya yang buncit,
apakah
sedang hamil atau tidak.
Kesalahan menaksir akan
berakibat pendeta itu
kehilangan nyawanya.
Sesungguhnya buncitnya
perut putri tersebut
merupakan akal-akalan
Sang Raja, dengan
memasangkanbokor
kuningan pada perut
sang
putri yang kemudian
ditutupi dengan kain
sehingga tampak seperti
sedang hamil. Perbuatan
tersebut dilakukan
semata-
mata untuk mengelabui
dan mencelakakan Sang
Pendeta saja.
Pendeta Ajar Sukaresi
yang
sudah mengetahui akal
busuk Sang Raja tetap
tenang dalam menebak
teka-teki yang diberikan
oleh Sang Raja, Sang
Pendeta pun berkata
bahwa memang perut
Sang
Putri tersebut sedang
hamil. Sang Raja pun
merasa gembira
mendengar jawaban dari
Pendeta tersebut,karena
beliau berpikir akal
busuknya untuk
mengelabui Sang
Pendeta
berhasil. Sang Raja
dengan
besar kepala
berkatabahwa
tebakan Sang Pendeta
salah, dan kemudian
memerintahkan kepada
prajuritnya agar pendeta
tersebut dibawa ke
penjara
dan segera Sang Raja
mengeluarkan perintah
agar pendeta tersebut di
hukum mati.
Teryata tak berapa lama
kemudian diketahui
bahwa
Sang Puteri tersebut
benar-
benar hamil. Muka Raja
tersebut merah
padam,hal
ini tak mungkin terjadi
pikirnya. Dengan gelap
mata Sang Raja tersebut
marah dan menendang
bokor kuningan, kuali
dan
penjara besi yang berada
di
dekatnya. Bokor, kuali
dan
penjara besi itu jatuh di
tempat yang berbeda.
Daerah tempat jatuhnya
bokor kuningan,
kemudian
diberi nama Kuningan
yang
terus berlaku sampai
sekarang. Daerah tempat
jatuhnya kuali (bahasa
Sunda: kawali) dinamai
Kawali (sekarang kota
kecamatan yang
termasuk
ke dalam daerah
Kabupaten Ciamis dan
terletak antara Kuningan
dan Ciamis, sekitar 65 km
sebelah selatan kota
Kuningan), dan daerah
tempat jatuhnya penjara
besi dinamai
Kandangwesi
(kandangwesi merupakan
kosakata bahasa Sunda
yang artinya penjara besi)
terletak di daerah Garut
Selatan.
Dalam Babad Cirebon
dan
tradisi Lisan Legenda
Kuningan bokor
kuningan
itu digunakan untuk
menguji tokoh ulama
Islam
(wali) bernama Sunan
Gunung Jati. Jalan
ceritanya
kurang lebih sama
dengan
cerita Ciung Wanara,
hanya
di dalamnya terdapat
beberapa hal yang
berbeda. Perbedaan yang
dimaksud terletak pada
waktu dan tempat
terjadinya peristiwa,
tujuan
dan akibat pengujian itu,
dan tidak ada peristiwa
penendangan bokor. Jika
cerita Ciung Wanara
menuturkan gambaran
zaman kerajaan Galuh
yang
sepenuhnya bersifat
kehinduan atau masa
pra-
Islam, maka Babad
Cirebon
dan tradisi lisan Legenda
Kuningan mengisahkan
tuturan pada zaman
peralihan dari masa
Hindu
menuju masa Islam atau
pada masa proses
Islamisasi. Dengan
demikian, isi cerita Ciung
Wanara lebih tua
daripada
isi Babad Cirebon atau
tradisi lisan Legenda
Kuningan. Cerita Ciung
Wanara
mengungkapakan
tempat peristiwanya di
Bojong Galuh, sedangkan
Babad Cirebon dan tradisi
lisan Legenda Kuningan
mengemukakan bahwa
peristiwanya terjadi di
Luragung (kota
kecamatan
yang terletak 19 km
sebelah timur Kuningan).
Tidak seperti dalam cerita
Ciung Wanara, penaksiran
kehamilan Puteri
dilatarbelakangi oleh
tujuan mencelakakan
pendeta Ajar Sukaresi
dan
berakibat pendeta
tersebut
dihukum mati, dalam
Babad Cirebon dan tradisi
lisan Legenda Kuningan
penaksiran kehamilan
tersebut dimaksudkan
untuk menguji keluhuran
ilmu Sunan Gunung Jati
semata-mata dan
berdampak
mempertinggi
kedudukan keulamaan
wali
tersebut. Anak yang
dilahirkannya adalah
seorang bayi laki-laki
yang
kemudian dipelihara dan
dibesarkan oleh Ki
Gedeng
Luragung, penguasa
daerah
Luragung. Selajutnya
Sunan
Gunung Jati menjadi
Sultan
di Cirebon. Setelah
dewasa
bayi itu diangkat oleh
Sunan Gunung Jati
menjadi
pemimpin atau kepala
daerah Kuningan dengan
nama Sang Adipati
Kuningan.
Jadi, dari nama jenis
logam
bahan pembuatan bokor
itulah daerah ini
dinamakan daerah
Kuningan. Itulah
sebabnya,
bokor kuningan dijadikan
sebagai salah satu
lambang
daerah Kabupaten
Kuningan. Lambang lain
daerah ini adalah kuda
yang berasal dari kuda
samberani milik Dipati
Ewangga, seorang
Panglima
perang Kuningan.
Menurut tradisi lisan
Lagenda Kuningan yang
lain, sebelum bernama
Kuningan nama daerah
ini
adalah Kajene. Kajene
katanya mengandung arti
warna kuning (jene
dalam
bahasa Jawa berarti
kuning). Secara umum
warna kuning
melambangkan
keagungan
dalam masyarakat
Nusantara. Berdasarkan
bahan bokor kuningan
dan
warna kuning itulah,
kemudian pada masa
awal
Islamisasi daerah ini
dinami
Kuningan. Namun
keotentikan Kajene
sebaga
nama pertama daerah ini
patut diragukan, karena
menurut naskah Carita
Parahyangan sumber
tertulis yang disusun di
daerah Ciamis pada akhir
abad ke-16 Masehi,
Kuningan sebagai nama
daerah (kerajaan) telah
dikenal sejak awal
kerajaan
Galuh, yakni sejak akhir
abad ke-7 atau awal
abad
ke-8 Masehi. Sementara
itu,
wilayah kerajaan
Kuningan
terletak di daerah
Kabupaten Kuningan
sekarang.
Adalagi menurut cerita
mitologi daerah setempat
yang mengemukakan
bahwa nama daerah
Kuningan itu diambil dari
ungkapan dangiang
kuning,
yaitu nama ilmu kegaiban
(ajian) yang bertalian
dengan kebenaran hakiki.
Ilmu ini dimiliki oleh
Demunawan, salah
seorang
yang pernah menjadi
penguasa (raja) di daerah
ini pada masa awal
kerajaan Galuh.
Dalam tradisi agama
Hindu
terdapat sistem kalender
yang enggambarkan
siklus
waktu upacara
keagamaan
seperti yang masih
dipakai
oleh umat Hindu-Bali
sekarang. Kuningan
menjadi nama waktu
(wuku) ke 12 dari sistem
kalender tersebut. Pada
periode wuku Kuningan
selalu daiadakan upacara
keagamaan sebagai hari
raya. Mungkinkah, nama
wuku Kuningan
mengilhami atau
mendorong pemberian
nama bagi daerah ini?
Yang jelas, menurut
Carita
Parahyangan dan
Fragmen
Carita Parahyangan, dua
naskah yang ditulis
sezaman pada daun
lontar
beraksara dan berbahasa
Sunda Kuna, pada abad
ke-8 Masehi, Kuningan
sudah disebut sebagai
nama kerajaan yang
terletak tidak jauh dari
kerajaan Galuh (Ciamis
sekarang) dan kerajaan
Galunggung (Tasikmalaya
sekarang). Lokasi kerajaan
tersebut terletak di
daerah
yang sekarang menjadi
Kabupaten Kuningan.

Sejarah Kota Kuningan

Ada beberapa
kemungkinan tentang
asal-
usulnya Kuningan
dijadikan
nama daerah ini. Salah
satu
kemungkinan adalah
bahwa istilah tersebut
berasal dari nama sejenis
logam, yaitu kuningan.
Dalam bahasa Sunda
(juga
bahasa Indonesia),
kuningan adalah sejenis
logam yang terbuat dari
bahan campuran berupa
timah, perak dan
perunggu. Jika disepuh
(dibersihkan dan diberi
warna indah) logam
kuningan itu akan
berwarna kuning
mengkilap seperti emas
sehingga benda dibuat
dari
bahan ini akan tampak
bagus dan indah.
Memang
logam kuningan bisa
dijadikan bahan untuk
membuat aneka barang
keperluan hidup manusia
seperti patung, bokor,
kerangka lampu maupun
hiasan dinding.
Di Sangkanherang, dekat
Jalaksana sebelum tahun
1914 ditemukan
beberapa
patung kecil terbuat dari
kuningan. Paling tidak
sampai tahun 1950-an
barang-barang yang
terbuat dari bahan logam
kuningan itu sangat
disukai
oleh masyarakat elit
(menak) di daerah
Kuningan. Barang-barang
yang dimaksud
berbentuk
alat perkakas rumah
tangga dan barang hiasan
di dalam rumah. Benda-
benda dari bahan
kuningan
itu juga disukai pula oleh
sejumlah masyarakat
Sunda, Jawa, Melayu, dan
beberapa kelompok
masyarakat di Nusantara
umumnya.
Di daerah Ciamis dan
Kuningan sendiri terdapat
cerita legenda yang
bertalian dengan bokor
(tempat menyimpan
sesuatu di dalam rumah
dan sekaligus sebagai
barang perhiasan) yang
terbuat dari logam
kuningan[. Kedua cerita
legenda dimaksud
menuturkan tentang
sebuah bokor kuningan
yang dijadikan alat untuk
menguji tingkat keilmuan
seorang tokoh agama.
Di Ciamis - dalam cerita
Ciung Wanara - bokor itu
digunakan untuk menguji
seorang pendeta Galuh
(masa pra-Islam)
bernama
Ajar Sukaresi yang
bertapa
di Gunung Padang.
Pendeta
ini diminta oleh Raja
Galuh
yang ibukota kerajaannya
berkedudukan di Bojong
Galuh (desa
Karangkamulya) sekarang
yang terletak sekitar 12
km
sebelah timur kota
Ciamis,
untuk menaksir perut
istrinya yang buncit,
apakah
sedang hamil atau tidak.
Kesalahan menaksir akan
berakibat pendeta itu
kehilangan nyawanya.
Sesungguhnya buncitnya
perut putri tersebut
merupakan akal-akalan
Sang Raja, dengan
memasangkanbokor
kuningan pada perut
sang
putri yang kemudian
ditutupi dengan kain
sehingga tampak seperti
sedang hamil. Perbuatan
tersebut dilakukan
semata-
mata untuk mengelabui
dan mencelakakan Sang
Pendeta saja.
Pendeta Ajar Sukaresi
yang
sudah mengetahui akal
busuk Sang Raja tetap
tenang dalam menebak
teka-teki yang diberikan
oleh Sang Raja, Sang
Pendeta pun berkata
bahwa memang perut
Sang
Putri tersebut sedang
hamil. Sang Raja pun
merasa gembira
mendengar jawaban dari
Pendeta tersebut,karena
beliau berpikir akal
busuknya untuk
mengelabui Sang
Pendeta
berhasil. Sang Raja
dengan
besar kepala
berkatabahwa
tebakan Sang Pendeta
salah, dan kemudian
memerintahkan kepada
prajuritnya agar pendeta
tersebut dibawa ke
penjara
dan segera Sang Raja
mengeluarkan perintah
agar pendeta tersebut di
hukum mati.
Teryata tak berapa lama
kemudian diketahui
bahwa
Sang Puteri tersebut
benar-
benar hamil. Muka Raja
tersebut merah
padam,hal
ini tak mungkin terjadi
pikirnya. Dengan gelap
mata Sang Raja tersebut
marah dan menendang
bokor kuningan, kuali
dan
penjara besi yang berada
di
dekatnya. Bokor, kuali
dan
penjara besi itu jatuh di
tempat yang berbeda.
Daerah tempat jatuhnya
bokor kuningan,
kemudian
diberi nama Kuningan
yang
terus berlaku sampai
sekarang. Daerah tempat
jatuhnya kuali (bahasa
Sunda: kawali) dinamai
Kawali (sekarang kota
kecamatan yang
termasuk
ke dalam daerah
Kabupaten Ciamis dan
terletak antara Kuningan
dan Ciamis, sekitar 65 km
sebelah selatan kota
Kuningan), dan daerah
tempat jatuhnya penjara
besi dinamai
Kandangwesi
(kandangwesi merupakan
kosakata bahasa Sunda
yang artinya penjara besi)
terletak di daerah Garut
Selatan.
Dalam Babad Cirebon
dan
tradisi Lisan Legenda
Kuningan bokor
kuningan
itu digunakan untuk
menguji tokoh ulama
Islam
(wali) bernama Sunan
Gunung Jati. Jalan
ceritanya
kurang lebih sama
dengan
cerita Ciung Wanara,
hanya
di dalamnya terdapat
beberapa hal yang
berbeda. Perbedaan yang
dimaksud terletak pada
waktu dan tempat
terjadinya peristiwa,
tujuan
dan akibat pengujian itu,
dan tidak ada peristiwa
penendangan bokor. Jika
cerita Ciung Wanara
menuturkan gambaran
zaman kerajaan Galuh
yang
sepenuhnya bersifat
kehinduan atau masa
pra-
Islam, maka Babad
Cirebon
dan tradisi lisan Legenda
Kuningan mengisahkan
tuturan pada zaman
peralihan dari masa
Hindu
menuju masa Islam atau
pada masa proses
Islamisasi. Dengan
demikian, isi cerita Ciung
Wanara lebih tua
daripada
isi Babad Cirebon atau
tradisi lisan Legenda
Kuningan. Cerita Ciung
Wanara
mengungkapakan
tempat peristiwanya di
Bojong Galuh, sedangkan
Babad Cirebon dan tradisi
lisan Legenda Kuningan
mengemukakan bahwa
peristiwanya terjadi di
Luragung (kota
kecamatan
yang terletak 19 km
sebelah timur Kuningan).
Tidak seperti dalam cerita
Ciung Wanara, penaksiran
kehamilan Puteri
dilatarbelakangi oleh
tujuan mencelakakan
pendeta Ajar Sukaresi
dan
berakibat pendeta
tersebut
dihukum mati, dalam
Babad Cirebon dan tradisi
lisan Legenda Kuningan
penaksiran kehamilan
tersebut dimaksudkan
untuk menguji keluhuran
ilmu Sunan Gunung Jati
semata-mata dan
berdampak
mempertinggi
kedudukan keulamaan
wali
tersebut. Anak yang
dilahirkannya adalah
seorang bayi laki-laki
yang
kemudian dipelihara dan
dibesarkan oleh Ki
Gedeng
Luragung, penguasa
daerah
Luragung. Selajutnya
Sunan
Gunung Jati menjadi
Sultan
di Cirebon. Setelah
dewasa
bayi itu diangkat oleh
Sunan Gunung Jati
menjadi
pemimpin atau kepala
daerah Kuningan dengan
nama Sang Adipati
Kuningan.
Jadi, dari nama jenis
logam
bahan pembuatan bokor
itulah daerah ini
dinamakan daerah
Kuningan. Itulah
sebabnya,
bokor kuningan dijadikan
sebagai salah satu
lambang
daerah Kabupaten
Kuningan. Lambang lain
daerah ini adalah kuda
yang berasal dari kuda
samberani milik Dipati
Ewangga, seorang
Panglima
perang Kuningan.
Menurut tradisi lisan
Lagenda Kuningan yang
lain, sebelum bernama
Kuningan nama daerah
ini
adalah Kajene. Kajene
katanya mengandung arti
warna kuning (jene
dalam
bahasa Jawa berarti
kuning). Secara umum
warna kuning
melambangkan
keagungan
dalam masyarakat
Nusantara. Berdasarkan
bahan bokor kuningan
dan
warna kuning itulah,
kemudian pada masa
awal
Islamisasi daerah ini
dinami
Kuningan. Namun
keotentikan Kajene
sebaga
nama pertama daerah ini
patut diragukan, karena
menurut naskah Carita
Parahyangan sumber
tertulis yang disusun di
daerah Ciamis pada akhir
abad ke-16 Masehi,
Kuningan sebagai nama
daerah (kerajaan) telah
dikenal sejak awal
kerajaan
Galuh, yakni sejak akhir
abad ke-7 atau awal
abad
ke-8 Masehi. Sementara
itu,
wilayah kerajaan
Kuningan
terletak di daerah
Kabupaten Kuningan
sekarang.
Adalagi menurut cerita
mitologi daerah setempat
yang mengemukakan
bahwa nama daerah
Kuningan itu diambil dari
ungkapan dangiang
kuning,
yaitu nama ilmu kegaiban
(ajian) yang bertalian
dengan kebenaran hakiki.
Ilmu ini dimiliki oleh
Demunawan, salah
seorang
yang pernah menjadi
penguasa (raja) di daerah
ini pada masa awal
kerajaan Galuh.
Dalam tradisi agama
Hindu
terdapat sistem kalender
yang enggambarkan
siklus
waktu upacara
keagamaan
seperti yang masih
dipakai
oleh umat Hindu-Bali
sekarang. Kuningan
menjadi nama waktu
(wuku) ke 12 dari sistem
kalender tersebut. Pada
periode wuku Kuningan
selalu daiadakan upacara
keagamaan sebagai hari
raya. Mungkinkah, nama
wuku Kuningan
mengilhami atau
mendorong pemberian
nama bagi daerah ini?
Yang jelas, menurut
Carita
Parahyangan dan
Fragmen
Carita Parahyangan, dua
naskah yang ditulis
sezaman pada daun
lontar
beraksara dan berbahasa
Sunda Kuna, pada abad
ke-8 Masehi, Kuningan
sudah disebut sebagai
nama kerajaan yang
terletak tidak jauh dari
kerajaan Galuh (Ciamis
sekarang) dan kerajaan
Galunggung (Tasikmalaya
sekarang). Lokasi kerajaan
tersebut terletak di
daerah
yang sekarang menjadi
Kabupaten Kuningan.